PENTINGNYA MASYARAKAT INDONESIA MENGGUNAKAN PRODUK PERAWATAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT (SIKAT GIGI, PASTA GIGI, DAN BENANG GIGI) RAMAH LINGKUNGAN

Sampah plastik masih menjadi masalah lingkungan yang belum terselesaikan. Secara global, manusia memproduksi 300 juta ton sampah plastik per tahun, hampir ekuivalen dengan total berat seluruh populasi di bumi. Namun, hanya 9% sampah yang dikelola dengan tepat (daur ulang atau digunakan kembali). Sekitar 12% dibakar dan sisanya menumpuk di tempat pembuangan akhir atau di lautan.  Layaknya sampah plastik lain, sikat gigi bekas sering kali berakhir di saluran air dan lautan.

Berdasarkan data dari Jambeck et al. (2015), diperkirakan 3,22 juta ton sampah plastik di lautan dunia berasal dari Indonesia.Pada tahun 2017, Pemerintah Indonesia menargetkan pengurangan jumlah sampah plastik di lautan sebesar 70% untuk tahun 2025 mendatang. Guna mencapai target ini, pengalihan penggunaan produk sikat gigi plastik ke sikat gigi ramah lingkungan cukup memiliki peran. Membuang satu sikat gigi plastik tampaknya memang tidak berbahaya, tapi asumsikan jika setiap orang mengganti sikat gigi tiga bulan sekali, berarti ada empat sampah sikat gigi setiap tahunnya. Jika terdapat 267 juta jiwa melakukan hal serupa, maka akan ada satu miliar sikat gigi plastik yang dibuang setiap tahunnya.

Selain sikat gigi, produk pasta gigi masih dikemas dengan kemasan plastik yang sulit terurai; benang gigi yang umum digunakan oleh masyarakat Indonesia juga masih terbuat dari nilon. Meskipun masih sangat jarang didapatkan di supermarket, pasta gigi dan benang gigi ramah lingkungan sudah mulai mudah didapatkan di situs e-commerce.

Sangat penting bagi para dokter gigi dan tenaga profesional bidang kedokteran gigi untuk menguasai pengetahuan tentang produk perawatan kesehatan gigi dan mulut (sikat gigi, pasta gigi, dan benang gigi) ramah lingkungan guna merekomendasikan dan mempromosikan produk perawatan kesehatan gigi dan mulut terbaik dengan dampak lingkungan paling minimum kepada pasien.

Secara umum, produk ramah lingkungan adalah produk yang memiliki manfaat jangka panjang, mampu membebaskan konsumen dari tanggung jawab terhadap lingkungan, tanpa mengurangi kualitas produk yang memuaskan. Produk dapat dianggap ramah lingkungan oleh konsumen ketika jenis bahan, proses produksi, pengemasan, dan promosi produk tersebut meminimalisasi dampak buruk bagi lingkungan dengan mengandung konten yang dapat didaur ulang atau mudah terurai serta  meminimalkan   pemakaian zat kimia beracun.

  1. Sikat gigi

Sikat gigi umumnya berbahan plastik polipropilena untuk gagang sikat dan nilon untuk bulu sikatnya. Plastik polipropilena merupakan jenis polimer termo-plastik kuat dan semi-transparan. Berbeda dengan polietilen, polipropilena tidak mengandung substansi beracun (toksik) maupun zat berbahaya sehingga produk berbahan dasar polipropilena aman digunakan sebagai bahan dasar kemasan produk makanan dan minuman atau sebagai bahan dasar sikat sikat gigi. Serat sintetik nilon dibuat dari bahan anorganik yaitu minyak bumi yang merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Nilon tidak mudah terurai dan menyumbang sekitar 10% sampah di laut. Pada dasarnya, kedua bahan dasar sikat gigi ini memiliki kemungkinan untuk melalui proses daur ulang. Namun, biaya proses daur ulang (terutama bahan nilon) lebih tinggi daripada biaya produksi produk sehingga proses daur ulang dari sisi ekonomi dianggap tidak menguntungkan.

Saat ini hanya ada sedikit data kuantitatif yang tersedia mengenai dampak berbagai jenis sikat gigi terhadap planet bumi. Pada September 2020, British Dental Journal mempublikasikan studi penelitian pertama yang menggunakan penilaian siklus hidup untuk mengukur konsekuensi lingkungan produk perawatan kesehatan dengan sikat gigi sebagai modelnya. Studi ini mengukur dampak lingkungan dari sikat gigi elektrik dan konvensional, termasuk sikat gigi bambu dan sikat gigi konvensional dengan kepala sikat yang dapat diganti.

Penelitian komparatif menunjukkan bahwa sikat gigi plastik dengan kepala sikat yang dapat diganti dan sikat gigi bambu bekerja lebih baik daripada sikat gigi konvensional dan sikat elektrik dalam berbagai ukuran hasil dampak lingkungan yang digunakan dalam studi tersebut. Penggunaan sikat gigi elektrik sebenarnya berbahaya bagi bumi dan bagi orang-orang yang terlibat dalam proses produksi dan distibusi. Tidak banyak bukti yang menunjukkan sikat gigi elektrik lebih efektif kecuali bagi orang-orang dengan kondisi tertentu (penyandang disabilitas) yang kesulitan menggunakan sikat gigi konvensional.

Studi penelitian ini juga memaparkan bahwa sebenarnya penggunaan sikat gigi bambu bukanlah jawaban yang ideal bagi permasalahan lingkungan. Penggunaan bambu untuk bahan dasar sikat gigi akan menghentikan penggunaan lahan sebagai habitat keanekaragaman hayati dan/atau penumbuhan hutan guna mengimbangi emisi karbon.

Sikat gigi ideal adalah sikat gigi berbahan dasar plastik yang didaur ulang secara kontinu. Sikat gigi plastik yang dapat didaur ulang tidak memakan banyak lahan dan tidak butuh banyak air untuk tumbuh. Poin penting produksi sikat gigi ini adalah menjaga plastik tetap berada dalam rantai daur ulang. Dibutuhkan sistem di mana sikat gigi plastik bekas dapat dikumpulkan dan kemudian di daur ulang menjadi produk baru. Jika lolos dari rantai daur ulang, plastik tersebut harus dapat dengan mudah dan alami dipecah menjadi produk yang tidak berbahaya.

  • Pasta gigi

Selain kemasan produk pasta gigi yang menggunakan plastik dan kertas, komposisi pasta gigi yang beredar di pasaran juga mengandung bahan yang memiliki potensial berbahaya bagi bumi. Bahan seperti sodium lauryl sulfate (SLS), glikol propilena, karagenan, triclosan, dan bahan aditif yang tidak terlalu penting seperti pewarna dan pemanis artifisial merupakan bahan-bahan kimia yang cukup berbahaya bagi bumi. Salah satu bahan paling berbahaya adalah triclosan yang memiliki fungsi dalam pencegahan infeksi gingiva. Triclosan yang dibuang ke saluran air yang kemudian mengalir ke sungai atau lautan akan berubah menjadi dioksin ketika terpapar sinar matahari.

Menurut World Health Organization (WHO), dioksin berbioakumulasi dalam jaringan lemak, dan seiring berjalannya waktu, dapat menyebabkan masalah reproduksi dan perkembangan bayi; dioksin juga dianggap dapat menyebabkan gangguan endokrin danmerupakan karsinogen. Apabila triclosan berikatan dengan klorin dalam air keran, ikatan tersebut dapat membentuk kloroform, yang memiliki kemungkinan karsinogen terhadap manusia. Sebagian merek-merek pasta gigi sudah menghentikan penggunaan triclosan dalam produk mereka.

Beberapa zat aditif tambahan seperti sakarin dan aspartam yang merupakan pemanis buatan yang masuk ke daftar bahan tambahan yang harus dihindari menurut Center for Science in the Public Interest. Sodium lauryl sulfate (SLS) adalah bahan pembusa yang tidak terlalu penting keberadaannya dalam klomposisi sikat gigi. Meskipun busa dapat membantu dalam distribusi bahan pembersih ke seluruh mulut termasuk di sela-sela gigi dan membantu pembersihan plak dan sisa makanan dalam mulut, SLS juga dapat mengiritasi gusi dan gigi seensitif. Salah satu alternatif bahan pembusa natural adalah soapberry, yang telah digunakan dalam beberapa obat gigi herbal  dan memiliki fungsi antibakteri.

Pasta gigi biasanya terkemas dalam kotak karton yang menambah biaya bagi produsen dan konsumen. Kotak karton menambah estetika dan sebagai pelindung produk bagi produsen, namun bagi konsumen, kotak kertas tidak berguna. Setelah mendapatkan produk, konsumen biasanya langsung membuang kotak kertas. Pada beberapa negara seperti Islandia dan Swedia, pasta gigi dijual tanpa kotak. Hal ini menunjukkan penjualan pasta gigi sepenuhnya tergantung pada penerimaan konsumen.

  • Benang gigi

Penggunaan rutin benang gigi umumnya cukup rendah, berkisar antara 10%-30% pada orang dewasa. Rendahnya penggunaan benang gigi dapat disebabkan oleh teknis penggunaannya yang cukup menantang juga kerena merasa penggunaan sikat gigi sudah cukup untuk membersihkan gigi. Pembersihan menggunakan benang gigi dengan benar terbukti dapat mengurangi karies interproksimal.

Benang gigi awalnya terbuat dari benang sutra yang dilapisi wax. Namun benang gigi dengan bahan dasar nilon terbukti memiliki beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan benang gigi sutra. Selain bahan dasarnya lebih murah, benang nilon memiliki resistensi abrasi yang lebih baik karena dapat diproduksi dalam berbagai panjang dan ukuran.

Seiring berkembangnya teknologi, saat ini benang gigi ramah lingkungan dengan kualitas yang sama baiknya dengan benang gigi nilon telah beredar di pasaran. Benang gigi ini kembali menggunakan bahan sutra atau serat bambu yang dilapisi wax candelila. Kemasan benang gigi ramah lingkungan biasanya menggunakan botol kaca dan kertas daur ulang sebagai pembungkusnya.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Our planet is drowning in plastic pollution. This World Environment Day, it’s time for a change [Internet]. Unenvironment.org. [cited 2020 Nov 5]. Available from: https://www.unenvironment.org/interactive/beat-plastic-pollution/
  2. Jambeck JR, Geyer R, Wilcox C, Siegler TR, Perryman M, Andrady A, et al. Marine pollution. Plastic waste inputs from land into the ocean. Science. 2015;347(6223):770
  3. Sdrolia E, Zarotiadis G. A comprehensive review for green product term: From definition to evaluation: A comprehensive review for green product term. J Econ Surv. 2019;33(1):168.
  4. Lyne A, Ashley P, Saget S, Porto Costa M, Underwood B, Duane B. Combining evidence-based healthcare with environmental sustainability: using the toothbrush as a model. Br Dent J. 2020;229(5):303–6.
  5. Okunola A A, Kehinde I O, Oluwaseun A, Olufiropo E A. Public and environmental health effects of plastic wastes disposal: A review. J Toxicol Risk Assess [Internet]. 2019;5(2). Available from: http://dx.doi.org/10.23937/2572-4061.1510021

Penulis: Al Ghumaisha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *