VAKSIN COVID-19

Vaksin adalah zat yang sengaja dibuat untuk merangsang pembentukan kekebalan tubuh dari penyakit tertentu. Vaksin untuk menangkal penyakit yang disebabkan virus COVID-19 menjadi harapan bagi setiap negara yang terpapar penyakit mematikan ini. COVID-19 masih melanda di hampir seluruh negara di dunia. Sebagian negara bahkan dikabarkan mulai memasuki gelombang kedua pandemi. Sejak wabah COVID-19 muncul, Cina mengembangkan belasan vaksin COVID-19. Ada empat kandidat vaksin COVID-19 yang dikembangkan dari tiga perusahaan Cina, telah memasuki fase tiga uji klinis, atau fase terakhir sebelum mendapat persetujuan badan pengawas obat-obatan negara.

Kementerian Kesehatan bersama Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) dengan dukungan UNICEF dan WHO melakukan survei nasional tentang penerimaan vaksin COVID-19. Survei berlangsung pada 19-30 September 2020 dengan tujuan untuk memahami pandangan, persepsi, serta perhatian masyarakat tentang vaksinasi COVID-19. Pada pelaksanannya, survei tersebut mengumpulkan tanggapan lebih dari 115.000 orang, dari 34 provinsi yang mencakup 508 kabupaten/kota atau 99 persen dari seluruh kabupaten/kota. Hasil survei menunjukkan bahwa tiga perempat responden menyatakan telah mendengar tentang vaksin COVID-19, dan dua pertiga responden menyatakan bersedia menerima vaksin COVID-19. Namun demikian, tingkat penerimaan berbeda-beda di setiap provinsi, hal ini dilatar belakangi oleh status ekonomi, keyakinan agama, status pendidikan serta wilayah.

Pada kelompok masyarakat dengan informasi yang lebih banyak seputar vaksin misalnya, mereka cenderung akan menerima pemberian vaksin COVID-19. Hal yang sama juga terjadi pada responden dengan kepemilikan asuransi kesehatan, sebagian besar dari mereka lebih mungkin menerima vaksin COVID-19. Ini menegaskan bahwa saat ini masih dibutuhkan informasi yang akurat tentang vaksin COVID-19. Sementara itu, hasil survei juga menunjukkan adanya kelompok yang ragu dan sebagian kecil yang menolak. Dari tujuh persen responden yang menolak, menyebutkan faktor keamanan, efektivitas, serta kehalalan vaksin sebagai faktor pertimbangan mereka.

Kedatangan vaksin COVID-19 asal Cina menambah optimisme pemerintah terhadap penanganan COVID-19 di Indonesia. Sebanyak 1,2 juta vaksin Sinovac tiba di Indonesia pada tanggal 6 Desember 2020. Hal ini tentunya menjadi harapan akan berakhirnya pandemi COVID-19 yang sudah meresahkan Indonesia kurang lebih sembilan bulan sejak bulan Maret 2020. Tetapi, masyarakat juga perlu memahami beberapa hal terkait vaksinasi tersebut agar pemahamannya lebih baik dan siap menerima vaksin demi kebaikan dan keselamatan bersama.

Terkait prasyarat penerima vaksin Sinovac yang dibeli pemerintah, ternyata hanya diprioritaskan untuk masyarakat berusia 18 tahun sampai 59 tahun saja. Salah satu ahli imunologi Iris Rengganis menyatakan bahwa alasan adanya prioritas ini antara lain dikarenakan imunitas pada anak belum terbentuk sempurna, sementara untuk warga lanjut usia imunitas atau kekebalan tubuhnya sudah menurun dan banyak penyakit penyerta. Selain itu, berdasarkan penelitian fase ke-III di Indonesia, sampelnya hanya berupa relawan dari usia 18-59 tahun saja. Sehingga belum diketahui adanya efek samping atau yang lainnya terhadap anak anak dan lansia. Namun, para ahli kesehatan masih menunggu hasil uji vaksin Sinovac di Brazil, pasalnya Brazil juga menguji vaksin Sinovac pada anak-anak dan lansia dengan jumlah relawan yang jauh lebih banyak.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga sementara menunggu uji klinis vaksin COVID-19 yang sedang dilakukan oleh Bio Farma. BPOM juga akan memastikan keamanaan vaksin setelah uji klinis tahap III sebelum vaksin diedarkan. BPOM masih terus melakukan observasi untuk melihat aspek keamanan vaksin, terutama aspek mutunya. Proses observasi ini akan dilakukan paling lama 6 bulan sebelum mengeluarkan Emergency Use Authorization (EUA). Sedangkan untuk kehalalan dari vaksin COVID-19, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Miftachul Akhyar mengatakan bahwa lembaganya belum bisa memastikan status halal vaksin COVID-19 yang telah masuk ke Indonesia. Pihaknya pun akan segera membahasnya melalui Bahsul Masail.

Presiden Joko Widodo telah memutuskan vaksin COVID-19 akan diberikan secara gratis kepada seluruh masyarakat Indonesia. Presiden juga telah menginstruksikan kepada semua jajaran kementrian dan lembaga serta pemerintah daerah agar memprioritaskan anggaran 2021 untuk vaksinasi. Presiden Jokowi mengakui, keputusan pemberian vaksin COVID-19 secara gratis ini diambilnya setelah menerima banyak masukan dari masyarakat serta menghitung ulang keuangan negara. Presiden Jokowi menekankan bahwa seluruh masyarakat Indonesia tidak akan dikenakan biaya sama sekali saat nantinya program vaksinasi COVID-19 dilaksanakan.

Sebelumnya, pemerintah melalui mantan Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto sebelum digantikan oleh Mentri Kesehatan yang baru yaitu Budi Gunadi mengungkapkan bahwa untuk mencapai cakupan 67 persen kebutuhan vaksin COVID-19 akan terdiri dari dua skema yaitu 30 persen vaksin program dan 70 persen vaksin mandiri. Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Kesehatan Terawan dalam Rapat Kerja bersama dengan Komisi IX DPR RI pada Kamis, 10 Desember 2020. Namun, dengan adanya kebijakan baru yang disampaikan Jokowi, maka vaksinasi COVID-19 di Indonesia tidak dipungut biaya. Jokowi mengatakan bahwa program vaksinasi COVID-19 akan mulai dilakukan pada Januari 2021. Presiden Jokowi memastikan masyarakat akan mendapatkan vaksin COVID-19 secara gratis. Menurut Jokowi, para dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya akan diprioritaskan untuk disuntik vaksin COVID-19 lebih awal. Kelompok prioritas penerima vaksin lainnya yakni, TNI-Polri dan guru.

Sumber:

www.who.int

www.cnnindonesia.com

www.presidenri.go.id

www.liputan6.com

Penulis: Teamwork Advokasi BEM FKG-UH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *