DENTALK #1: UPAYA PENCEGAHAN DAN PERAWATAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT SEBAGAI BENTUK ADAPTASI KEBIASAAN BARU DI MASA PANDEMI COVID-19

Minggu (20/12) BEM FKG Unhas menyelenggarakan salah satu program kerja Bidang 2 BEM FKG Unhas yang bertujuan untuk mensosialisasikan kesehatan gigi dan mulut kepada masyarakat dan sebagai salah satu media yang membantu masyarakat berinteraksi dengan profesional bidang kesehatan gigi dan mulut yang berkompeten, yaitu Dentalk. Sesuai dengan kondisi sekarang ini, Dentalk pertama diberi tema “Upaya Pencegahan dan Perawatan Kesehatan Gigi dan Mulut Sebagai Bentuk Adaptasi Kebiasaan Baru di Masa Pandemi COVID-19”. Kegitan Dentalk dilaksanakan live via akun instagram @bemfkgunhasselama satu jam, dari pukul 19.30 hingga 20.30 dengan narasumber drg. Yossy Yoanita Ariestiana, Sp.BM.

Dokter Yossy menyampaikan bahwa beberapa masyarakat terkadang masih sangat membutuhkan perawatan gigi dan mulut (misalnya pasien perawatan saluran akar atau pasien orthodontic) dalam suasana pandemi COVID-19. Namun, akibat tingginya laju kasus positif COVID-19, terutama di Kota Makassar beberapa hari belakangan, banyak praktik dokter gigi yang tutup. Penyebaran COVID-19 tentunya akan sangat tinggi pada tempat praktik kedokteran gigi, mengingat perantara utama penularan virus SARS-COV2 adalah droplet. Hal ini tentunya menyebabkan beberapa pasien kebingungan mencari tempat praktik atau rumah sakit yang menerima pasien gigi dan mulut.

Tingginya permintaan perawatan gigi dan mulut akhirnya mendorong World Health Organization (WHO) dan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) mengeluarkan rekomendasi perawatan dengan pemberlakuan teledentistry/ telemedicine, yaitu konsultasi dengan dokter gigi melalui telepon genggam mengenai seberapa daruratnya kasus yang dialami pasien. Beberapa perawatan pasien dapat selesai melalui screening jarak jauh, namun ada juga pasien yang membutuhkan tindakan langsung. Screening dilakukan pasien dengan mengisi kuisioner terkait sakit yang dirasakan. Jika pasien harus datang ke praktik kedokteran gigi, kesehatan pasien terkait gejala COVID-19 dievaluasi terlebih dahulu. Kontak fisik pasien dengan orang-orang yang positif COVID-19 juga dievaluasi. Perawatan pasien dibagi menjadi:

  1. Elective care: perawatan dapat ditunda hingga 2 minggu, perawatan awal dapat dilakukan melalui telemedicine
  2. Urgent care: jika pasien mengalami nyeri akut (acute pain) atau pembengkakan, dapat diberi manajemen farmakologi (diberi obat-obatan)
  3. Emergency care: pasien harus ditangani di tempat praktik dokter gigi

Memasuki fase new normal, perawatan pasien gigi dan mulut sedikit ‘dilonggarkan’ (pasien tidak lagi harus pada fase emergency care), namun tentunya tetap mengikuti protokol kesehatan yang ketat. Tenaga medis bidang kedokteran gigi diwajibkan memakai APD level 3, dan screening kesehatan pasien terkait gejala-gejala COVID-19 masih diberlakukan. Bahkan beberapa tempat praktik kedokteran gigi mengharuskan pasien melakukan rapid test, swab, atau PCR sebelum datang ke tempat praktik.

Setelah pemaparan materi, kegiatan diakhiri dengan sesi tanya-jawab antar masyarakat dan drg. Yossy Yoanita Ariestiana, Sp.BM melalui fitur question box. Nantikan terus Dentalk setiap bulannya di instagram live @bemfkgunhas!

Penulis: Al Ghumaisha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *