Inflasi: Buka Mata Masyarakat

Beberapa bulan terakhir, berbagai stasiun tv, surat kabar, berita online dan media massa lainnya marak memberitakan mengenai inflasi yang terjadi di Indonesia. Inflasi merupakan suatu keadaan naiknya harga-harga barang umum secara terus-menerus dalam kurun waktu tertentu disebabkan karena tidak seimbangnya arus uang dan barang. Salah satu hal yang sangat terlihat dengan proses inflasi ini adalah nilai tukar rupiah yang semakin merosot.

Nilai Tukar Rupiah Menurun, Maksudnya Bagaimana?

Mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia masih belum mengerti dengan penurunan nilai tukar rupiah. Kalau di awal tahun 2018 lalu nilai tukar Rupiah terhadap USD adalah Rp 13.500, dan pada bulan Agustus 2018 adalah Rp 14.400, kenapa dikatakan turun ya???

Ketika kita berbicara mengenai mata uang suatu negara, maka kita pasti membandingkannya dengan mata uang negara lain. Biasanya yang jadi patokan adalah mata uang Dolar Amerika Serikat atau US Dollar (USD). Jadi, ketika nilai tukar rupiah terhadap USD adalah Rp 13.500, maksudnya adalah dengan uang 13.500 kita dapat memperoleh 1 USD.  Seperti yang telah diberitakan oleh berbagai media massa, nilai tukar rupiah terhadap USD di awal tahun 2018 adalah Rp 13.500 sedangkan pada bulan Agustus menjadi Rp 14.400. Nah, dari sini kita dapat melihat bahwa di awal tahun dengan uang Rp 13.500 saja kita dapat memperoleh 1 USD namun pada bulan Agustus untuk memperoleh 1 USD kita harus mengeluarkan uang sebesar Rp 14.400, sehingga dikatakan bahwa nilai tukar rupiah menurun atau dapat diakatakan melemah terhadap mata uang asing dalam hal ini USD.

Dalam bahasa ekonomi, penurunan nilai tukar mata uang dapat diistilahkan sebagai “depresiasi”. Jika salah satu mata uang mengalami depresiasi, pastinya yang satu lagi mengalami kenaikan atau istilah yang lebih tepat adalah “apresiasi”. Dalam hal ini, USD mengalami apreasiasi atau penguatan terhadap nilai mata uang Rupiah. Nah, pada tahun 2018 ini, sebetulnya agak kurang tepat jika kita mempertanyakan “kenapa Rupiah bisa menurun?”, karena sebetulnya bukan Rupiah yang melemah, tapi Dolar AS yang menguat. Kenaikan nilai Dolar AS inilah yang menjadi pemicu awal depresiasi nilai mata uang berbagai negara, termasuk Rupiah Indonesia. Hampir semua mata uang negara lain terdepresiasi terhadap nilai USD. Beberapa data menunjukkan bahwa sejak awal Maret sampai awal Juli 2018, mata uang Singapura (SGD) terdepresiasi 3.22%, Yen Jepang (JPY) terdepresiasi sebesar 4.17%, bahkan Euro (EUR) dan Pound sterling (GBP) juga terdepresiasi masing-masing 4.54% dan 4.76%. Jadi bisa dilihat bahwa mata uang berbagai negara juga mengalami hal yang sama seperti negara kita, termasuk negara-negara yang ekonominya sudah sangat maju sekalipun juga terkena dampak depresiasi pada mata uang USD (Zenius.net, 31/07).

USD menguat Rupiah melemah, Kronologinya???

Dilansir dalam sebuah situs online (zenius.net), menguatnya nilai mata uang USD terhadap mata uang negara lain termasuk Indonesia terjadi karena adanya perang dagang antara Amerika Serikat (negara dengan perekonomian terbesar di dunia) dan Tiongkok yang merupakan negara dengan perekonomian nomor 2 terbesar di dunia. Jadi, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kemerosotan nilai Rupiah ini tidak hanya disebabkan oleh masalah internal (dari dalam negara itu sendiri) tapi juga disebabkan oleh kenaikan suku bunga USD sebagai salah satu strategi perang dagang AS melawan Tiongkok yang memicu para pemilik modal untuk menjual, menukarkan kekayaannya dalam bentuk Rupiah menjadi berbentuk Dolar Amerika.

Hal serupa juga disampaikan oleh DR.M. Ma’ruf Idris MT. MM selaku Pembina Yayasan STIEM Bongaya. Beliau mengatakan bahwa “Inflasi yang terjadi ini bersifat multifaktor, bukan semata-mata karena persoalan dalam negeri tetapi dari luar juga, terutama embargo dagang antara Amerika dan Cina, itu menyebabkan gejolak dalam kondisi ekonomi secara global.”

Dampaknya bagi Indonesia?

Penurunan nilai mata uang rupiah ini dapat berdampak buruk terhadap perekonomian yang ada di Indonesia berupa:

  1. Investor asing kabur karena mengalihkan kekayaannya dalam bentuk USD
  2. Utang negara jadi lebih besar dari prediksi sebelumnya
  3. Daya konsumsi masyarakat bagi barang impor jadi menurun

Lalu, bagaimana dengan dampaknya terhadap dunia kesehatan? Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa, inflasi merupakan suatu kondisi dimana harga barang-barang mengalami kenaikan. Bahan dan alat yang digunakan dalam praktik kedokteran umum maupun kedokteran gigi juga dapat mengalami kenaikan harga sebagai imbas dari inflasi tersebut. Namun, kenaikan harga ini tidak berlaku untuk semua barang atau alat-alat kedokteran. Dalam dunia kesehatan sendiri juga tidak terlepas dari adanya para pelaku ekonomi, seperti para investor atau pemilik modal, konsumen dan penyedia layanan jasa. Dampak inlflasi terhadap dunia kesehatan mungkin tidak terlalu nampak bila dibandingkan dengan sektor lainnya. Sehingga pengetahuan atau informasi mengenai inflasi ini kurang menjadi perhatian bagi para tenaga medis.

Sebagai salah satu pelaku ekonomi, dalam hal ini yaitu sebagai konsumen, kita dapat turut berkontribusi untuk mengendalikan inflasi yang saat ini terjadi. Hal yang dapat kita lakukan, antara lain dengan berbelanja sesuai kebutuhan dan menggunakan produk dalam negeri. “Jangan terlalu konsumtif dalam menggunakan suatu produk, fokus penggunaan ke barang lokal dan kurangi penggunaan barang import.Kurangi pembelanjaan barang import, permintaan barang import tinggi yah, hasilnya pedagang akan hubungi produsen untuk mendapat produk itu, jika terlalu banyak penggunaan barang import, maka Indonesia harus belanja dollar dalam jumlah banyak”, tutur bapak DR.M. Ma’ruf Idris MT. MM saat diinterview di kediamannya Jumat lalu (30/11). “Adapun untuk pemerintah, harus membuat produk yg menarik secara lokal, untuk menekan perilaku konsumptif import dari masyarakat,” tambahnya.

Mari Cintai Produk dalam Negeri!

Berkontribusi tanpa harap balas budi

Bersatu dalam beda, membahu dalam kerja

Kerja Kita Prestasi Bangsa!

Sumber:

www.kemenkeu.go.id

www.liputan6.com

www.cnnindonesia.com

www.zenius.net/blog/

www.cnbcindonesia.com

Penulis: Teamwork Advokasi BEM FKG-UH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *